Tugas Kelompok
MAKALAH FIKIH
“KESEHATAN LINGKUNGAN EKSTERNAL”
OLEH
AKMAL NOVRIAN SYAHRUDDIN (70200110005)
ANDHIKA SAPUTRA (70200110009)
KESMAS A
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2010/2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah ini mengenai kesehatan lingkungan eksternal.
Penyusun bersyukur karena dengan kodrat dan iradatAllah SWT. Penyusun dapat menyelesaikan tugas dengan baik. Namun dengan kerendahan hati, keterbukaan tangan dan keleluasaan waktu “tak ada gading yang tak retak” oleh karena itu penyusun berterima kasih akan saran dan kritik sahabat pembaca budiman. Semoga memberikan manfaat bagi kita semua
Akhirnya semoga makalah ini dapat menjadi ladang amal saleh yang diterima oleh Allah SWT, ilmu yang bermanfaatdan menjadi bagian dalam mewujudkan agen of change kea rah yang diridhai Allah SWT. Amin.
Samata, Gowa, april 2011
Penulis
DAFTAR ISI
Kata pengantar………………………………….……..……………. i
Daftar isi…………………………………….………..…………….. ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1. Latar Belakang…………………………………………… 1
2. Rumusan masalah………………………………….…… 1
BAB 2 PEMBAHASAN
A. Pengertian ...........................……………………….. 2
B. Macam-Macam Kesehatan Lingkungan Eksternal…….. 3
C. Pengaruh Lingkungan Terhadap kesehatan...…………. 4
D. Menurut Pandangan Islam.....................……….……. 5
E. Pandangan Kesehatan....................................……….…. 6
BAB 3 PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………….………… 8
B. Saran………………………………….………………….. 9
Referensi........…………...………………………..…………………. 10
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pentingnya kesehatan bagi manusia
Kesehatan sebagai sarana dalam mencapai kehidupan yang bahagia. Betapapun tersedianya kebutuhan hidup jika kesehatan tidak dimiliki akan menjadi hambar, tidak berguna lagi bagi hidup dan kehidupan.
Islam sejak dari awal sangat mementingkan hidup sehat melalui tindakan promotif-preventif-protektif. Langkah dimulai dari pembinaan terhadap manusia sebagai subjek sekaligus objek persoalan kesehatan itu sendiri. Islam menanamkan nilai-nilai tauhid dan manifestasi dari tauhid itu sendiri pada diri manusia. Nilai-nilai tersebut mampu merubah persepsi-persepsi tentang kehidupan manusia di dunia yang pada gilirannya tentu saja secara merubah perilaku manusia. Dan perilaku yang diharapkan dari manusia yang bertauhid adalah perilaku yang merupakan realisasinya dari ketaatan terhadap perintah dan larangan Allah.
Secara individual dengan landasan nilai tauhid, Islam mengajarkan agar setiap muslim bergaya hidup sehat. Ini merupakan cara efektif untuk menghindari sakit. Kebersihan misalnya, sangat ditekankan oleh Islam dan dinilai sebagai cerminan dari Iman seseorang. Kewajiban membersihkan hadats kecil, mandi janabah, sunnah untuk bersiwak membuktikan bahwa Islam sangat perduli terhadap kebersihan fisik.
2. Rumusan masalah
a. Bagaimana pengertian kesling menurut bahasa, istilah,islam dan kesehatan?
b. Apa saja macam-macam, pengaruh, pandangan islam dan kesehatan terhadap kesling eksternal?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Pasal 1 butir 1 UU No. 36 Tahun 2009). Sedangkan lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa.
Dari pengertian di atas maka Kesehatan lingkungan berarti suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologis yang dinamis antara manusia dan
lingkungan untuk mendukung tercapainya realitas hidup manusia yang sehat,
sejahtera dan bahagia (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan).
Kesehatan Lingkungan terbagi dua internal dan eksternal. Kesehatan lingkungan internal ialah kesehatan lingkungan yang lebih mengarah kepada sanitasi yakni usaha pengendalian faktor-faktor lingkungan fisik manusia yang mungkin menimbulkan atau dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan bagi perkembangan fisik, kesehatan dan daya tahan hidup manusia.Sedangkan Kesehatan lingkungan eksternal ialah kesehatan lingkungan yang lebih mengarah kepada Hygiene yakni usaha kesehatan preventif atau pencegahan penyakit yang menitik beratkan kegiatannya baik pada usaha kesehatan perorangan maupun kepada usaha kesehatan lingkungan fisik dimana orang berada.
Ilmu Kesehatan Lingkungan diberi batasan sebagai ilmu yang mempelajari
dinamika hubungan interaktif antara kelompok penduduk atau masyarakat
dengan segala macam perubahan komponen lingkungan hidup seperti
spesies kehidupan, bahan, zat atau kekuatan di sekitar manusia, yang
menimbulkan ancaman, atau berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan
masyarakat, serta mencari upaya-upaya pencegahan (Umar Fahmi Achmadi, 1991).
Dalam Islam Pada dasarnya, akhlak yang diajarkan Al-Quran terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah.
Allah berfirman :
Artinya :
[2:30] Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.
Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua proses yang sedang terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga ia tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, "Setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia sendiri."
Binatang, tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa semuanya diciptakan oleh Allah SWT dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan sang Muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah "umat" Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
B. Macam-macam kesehatan lingkungan eksternal
Pada Pasal 162 adanya upaya kesehatan lingkungan ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan berupa sehat fisik, kimia, biologi, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
1).Lingkungan Fisik : lingkungan sekeliling manusia yang terdiri dari benda-benda yang tidak hidup(non livingthings) dan kekuatan-kekuatan fisik lainnya. Contohnya: air, udara,tanah, iklim, cuaca,dll
2).Lingkungan kimia : lingkungan yang mencakup tentang kimia berupa zat-zat dan senyawa-senyawa lainnya. Contoh: CO, O2, CO2,dll
3).Lingkunan Biologik : keseluruan makhluk hidup yang ada disekeliling manusia termasuk manusia itu sendiri.Makhluk hidup itu berkisardari paling kecil yaitu Virus dan mikrroba lainnya,sampai ke insekta,binatang,tumbuhan dan manusia itu sendiri
4).Lingkungan Sosial : lingkunganyang mencangkup hubungan yang kompleks antara faktor-faktor dan kondisi-kondoisi budaya, sistem nilai, adat, kebiasaan, sikap, moral, agama, pendidikan,pekerjaan,standar hidup,kehidupan masyarakat,tersedianya pelayanan kesehatan.
C. Pengaruh Lingkungan terhadap Kesehatan
Berbagai pendapat para Ilmuwan mengenai pengaruh lingkungan terhadap kesehatan yaitu:
• Juli Soemirat Slamet (2000;35-36) menyimpulkan lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitarnya, baik berupa benda hidup, benda mati, benda nyata ataupun abstrak, termasuk manusia lainnya, serta suasana yang terbentuk karena terjadinya interaksi diantara elemen-elemen di alam tersebut. Pada prinsipnya lingkungan ( air, udara, tanah, sosial ) tidak dapat dipisah-pisahkan, karena tidak mempunyai batas yang nyata dan merupakan satu kesatuan ekosistem. Tergantung kebutuhan, lingkungan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Lingkungan yang hidup (biotis) dan lingkungan tidak hidup (abiotis).
2. Lingkungan alamiah dan lingkungan buatan manusia.
3. Lingkungan prenatal dan lingkungan postnatal.
4. Lingkungan biofis dan lingkungan psikososial.
5. Lingkungan air (hidrosfir), lingkungan udara (atmosfir), lingkungan tanah (litosfir), lingkungan biologis (biosfir) dan lingkungan sosial (sosiosfir).
6. Kombinasi dari klasifikasi-klasifikasi tersebut.
• Dr. M.N. Bustan (1997;73) menyimpulkan lingkungan adalah bagian dari kehidupan manusia yang sangat penting. Gangguan lingkungan akan mengganggu kesehatan manusia. Salah satu aspek kesehatan lingkungan adalah kadar zat – zat toksik atau polusi disekitar lingkungan hidup manusia. Diperlukan pengetahuan dan upaya untuk menjaga agar udara tidak tercemar dengan polusi zat – zat yang membawa gangguan atau penyakit pernafasan.
• Dainur (1995; 7-8) menyimpulkan penyakit infeksi sangat ditentukan oleh status gizi dan kemungkinan tersedianya tempat berkembang biak kuman di lingkungan hidup masyarakat tersebut. Sebagai tolok ukur tingkat kesehatan lingkungan antara lain : fasilitas air bersih terlindung yang mudah diperoleh, tempat pembuangan kotoran, tempat pembuangan air limbah, tempat pembuangan sampah yang sehat, juga pemukiman yang sehat.Pengaruh Lingkungan terhadap Kesehatan
Juli Soemirat Slamet (2000;18-19) menyimpulkan perkembangan epidemiologi menggambarkan secara spesifik peran lingkungan dalam terjadinya penyakit dan wabah. Dilihat dari segi ilmu kesehatan lingkungan, penyakit terjadi karena adanya interaksi antara manusia dengan lingkungan tidak selalu menguntungkan, kadang-kadang manusia bahkan dirugikan, oleh karenanya manusia selalu berusaha untuk selalu memperbaiki keadaan sekitarnya sesuai dengan kemampuannya.
• Prof. Dr. Noor Nasri Noor, M.P.H (1997;28-29) menyimpulkan unsur lingkungan memegang peranan penting dalam menentukan terjadinya proses interaksi antara penjamu dan unsur penyebab dalam proses terjadinya penyakit.
D. Pandangan islam
Di dalam AlQur’an surat Al-Anbiya 107, Allah SWT berfirman:
Artinya:
[21:107] Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Ayat tersebut menjelaskan maksud Allah SWT menurunkan rasulNya, Muhammad SAW, yaitu untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Alam semesta dapat didefinisikan sebagai jagat raya yang didalamya termasuk manusia, tumbuhan, hewan, makhluk hidup lainnya, serta makhluk tidak hidup. Rahmat pada umumnya mengandung pengertian kasih sayang, keadilan, dan kesejahteraan. Dengan demikian tujuan Islam adalah identik dengan tujuan pembawanya, Muhammad SAW, yaitu membawa ajaran kasih sayang, keadilan, dan kesejahteraan bagi alam semesta.
Rahmatan lil alamin bukanlah sekedar motto Islam, tapi merupakan tujuan dari Islam itu sendiri. Sesuai dengan tujuan tersebut, maka sudah sewajarnya apabila Islam menjadi pelopor bagi pengelolaan alam dan lingkungan sebagai manifestasi dari rasa kasih bagi alam semesta tersebut. Selain melarang membuat kerusakan di muka bumi, Islam juga mempunyai kewajiban untuk menjaga lingkungan yang bersih, karena kebersihan merupakan bagian hidup masyarakat Islam seperti diutarakan oleh nabi Muhammad SAW dengan hadistnya yang berbunyi: “Kebersihan merupakan bagian dari iman”. Nabi Muhammad SAW juga melarang manusia untuk membuang air seni ke dalam sumber mata air, jalanan, di tempat teduh, dan di dalam liang (tempat hidup) binatang.
Larangan tersebut dapat dimanifestasikan lebih lanjut sebagai larangan untuk membuang sampah atau produk-produk berbahaya ke dalam lingkungan yang kemungkinan besar akan merusak atau menurunkan mutu lingkungan tersebut. Islam mengajak manusia untuk secara aktif menjaga lingkungan tersebut, misalnya dengan membuang sampah pada tempatnya. Hal ini sesuai dengan filsafah Islam yang umumnya bersifat lebih suka mencegah (preventive) perbuatan atau kejadian yang buruk ketimbang mengobati (curative) kejadian atau perbuatan buruk yang telah terjadi.
Namun, Islam juga tidak berpangku tangan apabila telah terjadi suatu kejadian buruk atau kejahatan seperti misalnya tertuang dalam hukum agama (syar’i) yang mengatur hukuman bagi pelanggar aturan.
E. Pandangan kesehatan
Kesehatan lingkungan eksternal sangat berperan penting dalam menunjang kesehatan seseorang. Karena dari empat faktor yang mempengaruhi kesehatan, lingkunganlah yang paling berperan. Menurut teori Blum, ada 4 faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan. Lingkungan memegang peranan terbesar, keturunan dan gaya hidup menempati posisi yang sama dan yang terakhir baru pelayanan kesehatan porsinya 1/4 dari lingkungan.
Dimana lingkungan dapat membentuk kebiasaan hidup sehat bagi manusia. Jika lingkungan dapat terjaga kebersihan dan kesehatannya maka akan mempelopori hidup yang sehat. Kesehatan menjadikan kesehatan lingkungan sebagai faktor utama untuk mendorong hidup sehat bukannya tanpa alasan. Karena dilingkungan terdapat banyak agen-agen penyakit jika kita mampu menjaga kesehatan lingkungan kita tentu kita akan terhindar dari agen-agen tersebut.
Hal ini tidak dapat disangkal lagi kualitas lingkungan pasti mempengaruhi status kesehatan masyarakat. Dari studi tentang kesehatan lingkungan tersirat informasi bahwa status kesehatan seseorang dipengaruhi oleh faktor hereditas, nutrisi, pelayanan kesehatan, perilaku dan lengkungan.
Menurut paragdima Blum yang lain tentang kesehatan dari lima faktor itu lingkungan mempunyai pengaruh dominan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi status kesehatan seseorang itu dapat berasal dari lingkungan pemukiman, lingkungan sosial, linkungan rekreasi, lingkungan kerja.
Keadaan kesehatan lingkungan di Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapaat perhatian, karena menyebabkan status kesehatan masyarakat berubah seperti: Peledakan penduduk, penyediaan air bersih, pengolalaan sampah, pembuangan air limbah penggunaan pestisida, masalah gizi, masalah pemukiman, pelayanan kesehatan, ketersediaan obat, populasi udara, abrasi pantai, penggundulan hutan dan banyak lagi permasalahan yang dapat menimbulkan satu model penyakit.
Contoh lingkungan menyebabkan dampak yang luar biasa adalah, penyakit minamata di Jepang akibat pencemaran mercury, kemudian di Eropa Timur beberapa th terakhir ini brain cancer menempati urutan tertinggi sejak cerenobhyl meledak, lalu di Alaska kanker lung akibat smoke
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Sebagai agama yang rahmatan lil alamin, Islam meletakkan pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan sebagai bagian integral dari proses ibadah dari penganutnya. Kewajiban setiap muslim dalam menjaga lingkungan yang baik telah termaktub di dalam AlQur’an dan juga diberikan contohnya dalam beberapa hadis nabi, termasuk ganjaran atau hukuman bagi yang tidak mengindahkan kewajiban tersebut.
Merosotnya citra Islam disegala bidang termasuk bidang lingkungan banyak diakibatkan oleh tidak dilaksanakannya kewajiban agama tersebut oleh sebagian besar pemeluknya. Sebagian besar pemeluk agama Islam masih menganggap bahwa kewajiban mereka lebih bersifat ritual ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan pergi haji tanpa melihat fungsi dan manfaat lebih jauh dari ritual tersebut.
Apabila dikaji lebih lanjut, shalat selain merupakan sarana berbakti kepada Allah SWT juga dimaksudkan agar mencegah pelaku shalat tersebut dari perbuatan keji dan mungkar termasuk membuat kerusakan dan pencemaran. Ibadah puasa diharapkan menjadi sarana bagi pelaku puasa tersebut untuk bersifat sabar, sederhana, dan tidak berfoya-foya. Dengan sifat tersebut, diharapkan mereka mampu mengekang diri mereka dari eksploitasi lingkungan yang berlebihan. Zakat dan sedekah diharapkan mampu membuat sipelaku menjadi orang yang pemurah dan sekaligus memberikan perhatian terhadap lingkungan sekitar.
Zakat dan sedekah seharusnya tidak dilakukan hanya untuk terlepas dari kewajiban untuk memenuhinya tetapi seharusnya disadari bahwa zakat dan sedekah tersebut harus memenuhi fungsinya sehingga harus dimonitor dan dikelola dengan baik demi kesejahteraan bersama. Selanjutnya pergi haji dapat juga dijadikan sarana untuk mempelajari lingkungan yang mungkin sangat berbeda dengan lingkungan asal pelaku haji tersebut. Selain itu penelusuran sejarah nabi Ibrahim yang merupakan bagian dari pelaksanaan haji tersebut juga dapat dijadikan pelajaran bagaimana pentingnya sumber daya alam (misalnya air) bagi manusia. Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam tersebut merupakan kewajiban bagi setiap individu muslim. Dengan menumbuh semangatkan kesadaran tersebut, insya Allah cita-cita Islam sebagai sebagai agama yang rahmatan lil alamin dapat terwujud.
2. SARAN
Sebagai umat muslim hendaknyalah kita memperhatikan setiap prilaku yang kita kita perbuat. Islam sangat memperhatikan fungsi manusia sebagai khalifah di bumi, yakni merawat, mengelola dan melestarikan lingkungan. Maka kami mengajak kepada seluruh pembaca agar kiranya dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di bumi ini. Yaitu memanfaatkan hasil bumi tanpa lupa merawat dan menjaga kelestariannya. So thank’s for your attention, keep save our earth for next generation!!!
REFERENSI
Fadli, “KESEHATAN dalam ISLAM” , diakses pada 24 april 2011 di http://www.fadlie.web.id/bangfad/kesehatan-dalam-islam.html,
Sofyan Agus, , 2007. ISLAM RAHMAT DUNIA, lexington, KY.
Sulastomo, "Manajemen kesehatan", Gramedia Pustaka Utama, 2000,
Suroto Rahmad.2010, “Akhlak terhadap Lingkungan dalam Islam”. Gramedia, Garut.
Wikipedia, “Kesehatan”, diakses pada 24 april 2011 di http://id.wikipedia.org/wiki/Kesehatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar