Kamis, 05 Mei 2011

EFEK ZAT PEWARNA

1. Pendahuluan
Umumnya zat pewarna oleh sebagian masyarakat digunakan untuk mengubah warna asli suatu makanan atau minuman bahkan obat-obatan. Campuran zat pewarna digunakan untuk mempercantik penampilan maupun menjaga kualiatas makanan itu sendiri.
Selain pada makanan, minuman dan obat-obatan, juga ditujukan untuk berbagai jenis aplikasi nana makanan, seperti kerajinan rumah tangga atau mainan edukatif.
Pada makanan dan minuman pewarnaan dikaitkan dengan prsepsi masyarakat menegenai citarasa. Misalnya merah untuk strawbery, ungu untuk anggur, kuning untuk nanas dan sebagainya. Selain sebagai persepsi cita rasa, zat makanan sebagian digunakan untuk mengurangi perubahan warna akibat musim, pengolahan dan penyimpanan. Misalnya dalam komoditas ini antara lain jeruk florida dan ikan salmon.
Secara umum bisa disimpulkan bahwasanya penambahan zat pewarna dimaksudkan untuk memberi identitas kepada makanan/minuman, melindungi rasa dan vitamin tertentu dari kerusakan akibat cahaya atau suhu yang ekstrem, serta menutupi variasi warna alami dan memperkuat warna alami non komoditas.
Perlu diketahui bahwa zat pewarna terbagi dua yaitu pewarna alami dan pewarna buatan/sintesis. Zat pewarna alami sangat aman untuk digunakan. Oleh karena itu penggunaannya sangat dianjurkan. Adapun pewarnaan sintesis memiliki efek yang merugikan terutama terhadap anak-anak.
Kandungan zat pewarna alami meliputi warna karamel (biasanya pada minuman kola dan kosmetik), annato(pewarna kuning kemerahan yang berasal dari biji tanaman achiote), pewarna hijau dari alga chorella, cochineal ( zat pewarna dari serangga dactylopius coccus), kunyit dan paprika.





2. Pembahasan
Bahaya Pewarna Sintesis
Kekuatan spectrum warna adalah keuntungan yang nyata bagi pewarna sintesis dibanding dengan pewarna alami. Selain itu pewarna sintesis mempunyai warna yang lebih kuat, lebih seragam, lebih stabil dan biasanya lebih murah. Berdasarkan rumus kimianya, zat pewarna sintesis dalam makanan di golongkan dalam beberapa kelas yaitu : azo, triaril, metana, quinolin, xantin, indigoid.
Diluar dari keuntungan yang dimiliki, pewarnaan sintesis memiliki efek berbahaya. Bahayanya adalah jika pewarna ini digunakan pada makanan. Beberapa survei menyatakan bahwa pewarna buatan dalam makanan sangat berpengaruh terhadap nilai akademik dan perilaku anak-anak.
Dalam pembuatannya, zat pewarna sintetik biasanya melalui pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang sering kali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Selain itu, pembuatan zat pewarna organik sebelum mencapai produk akhir, harus melalui suatu “senyawa antara” yang kadang-kadang berbahaya dan sering kali tertinggal pada hasil akhir atau terbentuk senyawa-senyawa baru yang berbahaya.
Adapun zat pewarna dikatakan aman jika kandungan arsennya tidak lebih dari 0,00014 persen dan timbal tidak boleh lebih dari 0,001 persen, sedangkan logam berat lainnya tidak boleh ada. Zat lain yang tidak diperbolehkan yaitu Rhodamin B. Selain itu pewarna lainnya yang dilarang adalah Metanil Yellow Rhodamin B yang memiliki rumus molekul C28H31N2O3CL, dengan berat molekul sebesar 479.000.
Untuk mengetahui ciri-ciri makanan yang di beri Rhodamin B adalah warna makanan merah terang mencolok. Biasanya makanan yang diberi pewarna untuk makanan warnanya tidak begitu merah terang mencolok. Yang terpenting adalah penggunannya menimbulkan gejala akut seperti iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata serta air seni merah atau merah muda.
Yang Alami Aman Untuk Dikonsumsi
Seperti yang kita ketahui, zat pewarna dibedakan atas dua yaitu zat pewarna alami dan zat pewarna buatan. Zat pewarna alami memiliki kandungan yang bermanfaat dan aman bagi tubuh. Zat pewarna alami diperoleh dari tumbuhan, hewan atau dari sumber-sumber mineral. Sejak dahulu, zat pewarna alami telah digunakan karena dianggap lebih aman dari zat sintesis atau buatan.
Pewarna alami disimbolkan dengan FDA. Dalam FDA, pewarna alami dan pewarna identik alami tergolong dalam “uncertified color additives” karena tidak memerlukan sertifikat kemurnian kimiawi.
Kekurangan dari pewarna alami adalah memiliki keterbatasan sehingga sering kali memberikan rasa dan flavor khas yang tidak diinginkan, konsentrasi dan stabilitas pigmen rendah, keseragaman warna yang kurang baik dan spectrum warna tidak seluas pewarna sintetik. Menurut berbagai sumber zat pewarna alami yang biasa dipakai untuk mewarnai makanan diantaranya:
1. Karamel yakni pewarnaan coklat merupakan hasil hidrolisis karbohidrat, gula, laktosa dan sirup malt. Digunakan untuk minuman berkarbohidrat, roti dan biskuit ;
2. Klorofil yakni pewarnaan hijau yang diperoleh dari daun seperti daun pandan, daun suji dan daun katuk. Digunakan dalam berbagai jenis kue jajanan;
3. Antosianon penyebab warna merah, orange, ungu dan biru. Banyak terdapat pada bunga dan buah-buahan;
4. Karoten menghasilkan warna jingga sampai merah. Biasanya digunakan unutk mewarnai produk-produk minyak dan lemak seperti minyak goreng dan margarin;
5. Biksin memberi warna kuning seperti pada mentega. Biksin diperoleh dari biji pohon bixa orellanayang terdapat di daerah tropis dan sering digunakan unutk mewarnai mentega, margarin, minyak sayur dan salad dressing.
Beberapa Tips Menghindari Penggunaan Zat Warna Sintetik Dalam Makanan
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk menghindari penggunaan zat warna sintetik dalam makanan untuk anaknya, yaitu:
1. Bacalah label pada kemasan makanan pangan secara teliti, pertimbangkan setiap bahan yang tercantum dalam kemasan sebelum membeli. Seperti :
• Kode regeistrasi produk. Ini untuk menendakan apakah produk itu telah terdaftar di BPOM. Produk yang telah teregistrasi biasanya sudah dikaji keamanannya;
• Ingredient atau bahan-bahan yang terkandung dalam produk pangan. Sebaiknya hindari produk yang tidak mencantumkan informasi bahan yang dikandungnya.
• Petunjuk aturan pakai. Informasi ini memudahkan anda mengonsumsi produk pangan;
• Informasi efek samping. Ini merupakan salah satu faktor terpenting sebelum mengsumsi produk pangan khususnya yang beresiko pada orang-orang tertentu;
• Expired date atau kedaluwarsa produk. Pastikan produk pangan yang dibeli belum kedaluwarsa agar tetap terjamin keamanannya.
2. Menghindari makanan olahan (processed food). Pewarna dan bahan aditif lainnya akan lebih banyak ditemui dalam makanan kemasan, botol atau kalengan. Selain itu juga perhatikan zat pewarna yang kadang ditambahkan dalam buah-buahan atau sayuran.
3. Buatlah permen atau es sendiri untuk anak-anak. Orangtua tidak bisa mengontrol apa yang dikonsumsi oleh anak-anaknya di luar rumah, karena itu bekali anak dengan cemilan yang menarik tapi sehat. Misalnya orangtua bisa membuat es susu sendiri atau membuat permen dari manisan buah yang dibuat sendiri.
4. Usahakan untuk menghindari makanan atau jajanan di luar yang memiliki warna terlalu cerah atau mencolok, karena biasanya warna-warna tersebut berasal dari zat warna sintetik.









3. KESIMPULAN
Penambahan zat pewarna pada makanan dilakukan untuk memberi kesan menarik bagi konsumen, menyeragamkan warna makanan, menstabilkan warna dan menutupi perubahan warna selama penyimpanan. Penambahan zat pewarna rhodamine B pada makanan terbukti mengganggu kesehatan, misalnya mempunyai efek racun, berisiko merusak organ tubuh dan berpotensi memicu kanker.
Oleh karena itu rhodamine B dinyatakan sebagai pewarna berbahaya dan dilarang penggunannya. Pemerintah sendiri telah mengatur penggunaan zat pewarna dalam makanan. Namun demikian masih banyak produsen makanan, terutama pengusaha kecil, yang menggunakan zat-zat pewarna yang dilarang dan berbahaya bagi kesehatan, misalnya pewarna untuk tekstil atau cat yang pada umumnya mempunyai warna yang lebih cerah, lebih stabil dalam penyimpanan, harganya lebih murah dan produsen pangan belum menyadari bahaya dari pewarna-pewarna tersebut.














Daftar Pustaka
Aceclover. Contoh Zat Pewarna. Diakses pada tanggal 4 Mei 2011 melalui http://www.islam-download.net/contoh-contoh/contoh-zat-pewarna.html
Elvira Syamsir.2010. Prinsip Pengolahan dan Pengawetan Makanan. Jogyakarta: Pustaka Pangan
Sunaryo. 2005. Sikap Dan Perilaku Manusia. Bandung: Rosda Karya
Supardi Imam.2006.Mikrobiologi Dalam Pengolahan dan Keamanan Pangan. Bandung: Alumni
Syah. 2005. Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan Pangan. Bogor. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB.
Vera Farah Bararah. Zat Pewarna Makanan Sintetik Bikin Anak Hiperaktif. Diakses pada tanggal 3 Mei 2011 melalui http://health.detik.com/read/2010/09/23/125000/1446513/764/zat-pewarna-makanan-sintetik-bikin-anak-hiperaktif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar