Ada yang pernah bertanya apa beda sarjana gizi (Sgz) dan sarjana Kesehatan Masyarakat dengan konsentrasi Gizi ??
sampai sekarang pertanyaan itu masih sering dilontarkan oleh mahasiswa termasuk oleh penulis sendiri.
Fokus keilmuan Sarjana Gizi lebih mengarah pada Gizi Klinik atau clinic nutrition sementara sarjana Kesehatan Masyarakat lebih mengarah pada gizi masayarkat (Community Nutrition). Perbedaan keduanya terletak pada fokus masalah masing-masing yaitu berdasarkan sasarannya gizi klinik mengarah pada gizi perseorangan dengan kata lain terfokus pada seorang individu yang sedang menderita gangguan kesehatan baik kekurangan ataupun kelebihan gizi. sementara sasaran dari gizi masyarakat yakni mencakup kelompok masyarakat yang mengalami gangguan gizi.
Gizi klinik lebih mengarah pada tindakan kuratif atau pengobatan, sementara pada gizi masyarakat menitikberatkan pada tindakan preventif (pencegahan) dan promotif (promosi kesehatan) sesuai dengan hakikat dari tenaga kesehatan masyarakat itu sendiri. permsalahan masyarakat mempunyai cakupan yang sangat luas bukan hanya pada aspek kesehatan saja melainkan permasalahan ekonomi, sosbud, pendidikan, dan sebagainya sehingga penyelesaiannya melibatkan multidisiplin ilmu.
Di luar perbedaan tersebut, Seorang tenaga kesehatan tentunya dituntut menjadi seorang tenaga kesehatan profesional. As we know, Ilmu Gizi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dalam hubungannya dengan kesehatan. agar dapat menjadi tenaga profesional, Seorang ahli gizi setidaknya harus mempunyai 3 peran, yakni sebagai dietisien, sebagai konselor gizi, dan sebagai penyuluh gizi.
Dietisien adalah seseorang yang memiliki pendidikan gizi, khususnya dietetik, yang bekerja untuk menerapkan prinsip-prinsip gizi dalam pemberian makan kepada individu atau kelompok, merencanakan menu, dan diet khusus, serta mengawasi penyelenggaraan dan penyajian makanan (Kamus Gizi, 2010).
Sedangkan seorang konselor gizi adalah ahli gizi yang bekerja untuk membantu orang lain (klien) mengenali, mengatasi masalah gizi yang dihadapi, dan mendorong klien untuk mencari dan memilih cara pemecahan masalah gizi secara mudah sehingga dapat dilaksanakan oleh klien secara efektif dan efisien. Konseling biasanya dilakukan lebih privat, berupa komunikasi dua arah antara konselor dan klien yang bertujuan untuk memberikan terapi diet yang sesuai dengan kondisi pasien dalam upaya perubahan sikap dan perilaku terhadap makanan (Magdalena, 2010).
yang ketiga yaitu penyuluh gizi.Merupakan seseorang yang memberikan penyuluhan gizi yang merupakan suatu upaya menjelaskan, menggunakan, memilih, dan mengolah bahan makanan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku perorangan atau masyarakat dalam mengonsumsi makanan sehingga meningkatkan kesehatan dan gizinya (Kamus Gizi, 2010). Penyuluhan gizi sebagian besarnya dilakukan dengan metode ceramah (komunikasi satu arah), walaupun sebenarnya masih ada beberapa metode lainnya yang dapat digunakan. Berbeda dengan konseling yang komunikasinya dilakukan lebih pribadi, penyuluhan gizi disampaikan lebih umum dan biasanya dapat menjangkau sasaran yang lebih banyak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar